Prabowo Pasang Target Sampah RI Tuntas 2028, Danantara Mulai Tender Teknologi Pengolahan

Kamis, 29 Oktober 2026 – 00:20 WIB

Jakarta, VIVA – Presiden Prabowo Subianto menargetkan persoalan sampah di Indonesia dapat diselesaikan hingga 2028. Untuk mengejar target tersebut, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mendapat tugas menangani persoalan sampah, termasuk melalui pengembangan teknologi pengolahan.

img_title

Presiden Prabowo Terima Menlu Singapura di Hambalang, Pertemuan Berlangsung Tertutup

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, pemerintah telah menyiapkan langkah untuk mempercepat penanganan sampah. Salah satunya melalui proses tender teknologi yang akan digunakan dalam pengolahan sampah.

Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga dalam acara Kearney 100 Years of Impact bertema “Jakarta Towards 500: Shaping the Next Global City Together” di Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.

img_title

Prabowo Bakal Bertemu Menlu Singapura Sore Ini, Asap Karhutla hingga Ekspor Gas Jadi Sorotan

Menurut Airlangga, persoalan sampah menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Jakarta untuk memperkuat posisinya sebagai kota global. Penanganan masalah tersebut membutuhkan langkah konkret agar pembangunan kota dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas lingkungan.

“Masalah sampah itu komitmen Presiden untuk selesaikan seluruh sampah sampai 2028. Danantara diberi tugas. Tender teknologi sudah,” ujar Airlangga.

img_title

Ucapkan Selamat, Prabowo Panggil Lula da Silva Sahabat dan Rekan Seperjuangan: Mari Kita Perkuat Kemitraan Strategis

Danantara Ditugaskan Tangani Persoalan Sampah

Penugasan kepada Danantara menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat penyelesaian persoalan sampah di Indonesia. Pengembangan teknologi pengolahan menjadi salah satu aspek yang disiapkan untuk mendukung pencapaian target Presiden Prabowo.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah tidak hanya berfokus pada pembangunan fasilitas pengolahan sampah. Kesiapan teknologi, kelengkapan infrastruktur, hingga kepastian pemanfaatan hasil proyek juga perlu diperhatikan agar fasilitas yang dibangun dapat beroperasi secara optimal.

Airlangga menilai, pembangunan infrastruktur harus direncanakan secara menyeluruh. Menurutnya, keberadaan fasilitas saja tidak cukup apabila tidak disertai kesiapan sistem pendukung dan pihak yang akan menggunakan layanan yang dihasilkan.

Ia mencontohkan persoalan infrastruktur air di wilayah timur Indonesia. Proyek yang telah dibangun masih berpotensi menghadapi kendala apabila hasil pembangunan tersebut tidak dimanfaatkan atau tidak terdapat pihak yang menyerap layanan yang tersedia.

“Kalau kita bangun infrastruktur harus komplit,” katanya.

Pandangan tersebut juga menjadi perhatian dalam penanganan sampah. Pemerintah perlu memastikan pembangunan fasilitas pengolahan didukung teknologi yang sesuai serta memiliki sistem operasional yang memadai.

Dengan demikian, proyek yang dikerjakan tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga dapat menjalankan fungsi pengolahan sampah sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Halaman Selanjutnya

Pengolahan Sampah Jadi Energi Listrik Masuk Agenda Prioritas

Halaman Selanjutnya